Cerita Mahabarata Yang Sangat Mempengaruhi Kebudayaan Jawa

Keragaman yang luar biasa dan perbedaan yang tajam antar tokoh tokoh Cerita Mahabarata Versi Jawa mencerminkan keragaman berbagai rona kehidupan sebagaimana dirasakan oleh orang jawa.

 Cerita Mahabarata Versi Jawa Bagi orang jawa , bagaimanapun  semesta tidak hanya dipenuhi oleh Daya yang hidup dan menghidupi, akan tetapi tersusun dalam hirarki dan tatanan yang rumit. Jawa tidak pernah memiliki sistem kasta. Akan tetapi sesuatu yang menyerupai gagasan murni kasta, lepas dari kekakuan kejam peradapan India dan menekankan fungsi ketimbang keturunan, dipegang dan dilestarikan sebagai ungkapan simbolis yang sesuai bagi masyarakat yang tersusun secara hirarki. Dimana masing masing tataran memiliki fungsinya dalam struktur sosial. Setiap golongan bergantung pada seluruh bagian lainnya. Kalo satu bagian gagal menjalankan fungsinya , seluruh bagian lain akan menanggung akibatnya.

Dengan demikian Sang raja menjalin hubungan dengan kuasa kuasa  adikodrati dan menjamin limpahan kemurahan mereka, Sang brahmana menyelenggarakan upacara upacara negara dan mewariskan budaya masyarakat kepada generasi berikut, Sang ksatria mengemban tugas untuk menjalankan administrasi negara dan menjaga negara dari serangan luar, Para pedagang memelihara kemakmuran ekonomi, Para tukang membangun perangkat2 material bagi peradapan. Dukungan masyarakat pada tiap individu dalam golongan golongan tersebut bergantung pada seberapa memadai mereka memenuhi fungsii fungsi golongan mereka. Misalnya jika ada Ksatria yang berperilaku sangat baik dalam “cara cara” seorang tukang maka dia adalah Ksatria yang buruk, betapapun banyak kebajikan yang pada kenyataannya dia lakukan….Cerita Mahabarata Versi Jawa.

Sepenggal Cerita Mahabarata – Raja Salya Mempersunting Dewi Satyawati

Dalam suatu lakon terkenal dalam Cerita Mahabarata Versi Jawa, Salya yang muda, rupawan lagi baik hati mendapati bahwa mempelai yang akan di kawininya, Dewi Satyawati adalah putri dari seorang pertapa raksasa bernama Begawan Bagaspati. Pasangan muda itu menjalin cinta yang mendalam. Satyawati juga sangat dekat dengan ayahnya yang telah lama menduda itu. Salya sendiri, secara ribadi tidak ada masalah dengan bapak mertuanya. Tetapi bagaimanapun, terasa bagi Salya “tidaklah pantas” seorang ksatria terkemuka berkeluargakan seorang raksasa – Pada kebanyakan Cerita Mahabarata Versi Jawa, cerita wayang, raksasa adalah musuh tradisional para ksatria. Mereka sering merupakan pengejawantahan kuasa kuasa iblis, sementara para ksatria merupakan perwujudan rasio dan tatanan.

Semua pihak memahami bahwa perkawinan Salya dan Satyawati tidaklah akan terlaksana selama Bagaspati masih hidup. Karenanya, Bagaspati memerintahkan Salya untuk membunuhnya, karena dia sendiri menginginkan perkawinan tersebut lestari demi putrinya. Dan sebagai hadiah perkawinan dia memberikan ajian Candrabirawa yang hebat dan tak terkalahkan. Salya sepakat untuk melaksanakan kehendak raksasa tua itu, meskipun dia sepenuhnya menyadari bahwa pembunuhan ini pada dasarnya adalah pelanggaran terhadap kode etik ksatria dan bahwa pada akhirnya harus enebusnya dengan nyawanya sendiri. Usai melakukan tindakan itu, Salya memboyong Satyawati ke istana keluarganya di Mandaraka.

cara CEPAT-KURUS-LANGSING-3-HARItombol-Beli-Sekarang FIFORLIF

Bagi penonton jawa , ambiguitas moral dari babak singkat ini adalah bahan perdebatan tiada akhir. Apa tugas yang diemban salya? Kepada siapa Satyawati harus menaruh kesetiaan? Apa rencana Bagaspati yang sebenarnya? Siapa diantara ketiga tokoh tersebut yang menunjukkan sifat mulia?

Apakah itu Salya yang bersedia membunuh demi menjaga kemurnian martabat keluarga ksatrianya dan mempersembahkan kematiannya sendiri sebagai sumbangsih?

Apakah Satyawati yang mengorbankan bapaknya demi suami terkasihnya?

Apakah dia Bagaspati yang lebih mementingkan putri dan orang yang dikasihi putrinya daripada dirinya sendiri, meskipun ketika maut menjemput dia meramalkan bahwa dia akan kembali untuk menuntut balas terhadap keduanya.

Cerita Mahabarata populer – Bratayuda Jayabinagun

Cerita Mahabarata yang asliDalam kumpulan Cerita Mahabarata, Dikisahkan Arjuna , yang paling dicintai dari para Pandawa, menjelang berperang tanding satu lawan satu dengan saudara tirinya Karna. Dalam kegelisahan yang mendalam dibenaknya, dia berpaling pada mentor spiritualnya, Prabu Kresna, dan mencurahakan isi hatinya bahwa dia sangat tidak ingin berperang. Para kurawa bagaimanapun adalah sudara sepupunya, dan pada pembantaian  sudara sendiri sang pemenanglah yang akan lebih menderita. Paling tidak yang kalah telah mencapai tujuan akhir para Ksatria yaitu mati secara mulia di medan laga.

Kresna menjawab singkat bahwa Ksatria sejati tak akan berpaling dari jalur tugasnya karena perasaan pribadi terhadap keluarganya. Selan itu, sejak lama Arjuna telah digariskan untuk menumpas saudaranya, Karna. Karna sendiri tahu bahwa ia ditakdirkan mati ditangan Arjuna, namun dia tak bergeming dari pertarungan. Sebagia ksatria sejati , Arjuna haruslah memperjuangkan garis takdirnya tanpa keluh kesah dan ratapan tanpa guna.

Kembali moralitas kelas penguasa tradisional disajikan dalam bentuknya yang paling lugas. Rasa solidaritas terhadap keluarga dan kesalehan, yang mungkin diagungkan oleh kelompok sosial yang lain, adalah terlarang bagi seorang ksatria. Dalam jagat yang seperti itu orang hanya dapat menakar nilai moral seseorang jika tahu siapa dia sebenarnya .

Dalam Cerita Mahabarata yang singkat terdapat lakon miterius dan keramat , Kerajaan Pandawa , Ngamarta diserang wabah yang tidak dapat dijelaskan. Seorang peramal memberi peringatan bahwa wabah ini hanya dapat ditanggulangi dengan kematian Semar, pembantu setia Pandawa yang telah menjaga mereka sejak lahir dan telah menyelamatkan mereka dari banyak kesulitan. Merasa sangat terusik, Prabu Yudhistira yang tertua dari Pandawa mengundang saudara saudaranya untuk musyawarah. Setelah debat yang panjang, mereka memutuskan bahwa masyarakat dan negara yang harus diperjuangkan oleh seorang ksatria haruslah didahulukan bahkan daripada nyawa abdi kesayangan mereka.

Kemudian Yudhistira memerintahkan Abimanyu (putra Arjuna) untuk mengajak sang abdi kehutan dan menghabisinya. Akan tetapi ketika Abimanyu dan Semar berdua saja, sang pangeran yang berhati lembut tak kuasa untuk melaksanakan perintah uaknya. Dia melepaskan Semar dan diri sendiri bergegas pergi.

Sentimen telah berubah di Jawa saat ini, Tetapi secara tradisional perilaku Abimanyu dipandang sebagai suatu lompatan dari moralitas ksatria sejati. Sang pemuda bertindak seperti seorang wanita, bukannya Ksatria. Orang yang benar benar bermoral adalah Semar, seorang abdi yang rela berkorban demi tuannya. Dan yudhistira yang meskipun berbakti kepada Semar, mengorbankan perasaan pribadinya bagi kesejateraan rakyatnya….Cerita Mahabarata lengkap

Sumber :Sepenggal Cerita Mahabarata

 

Comments

comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Matur suwun .. Tlg Jangan di copy content ini :)