Perjuangan Dakwah Wali Sanga Di Pulau Jawa

Penyebaran agam islam di Pulau jawa tidak lepas dari perjuangan  Dakwah Wali Sanga Yang mengalami sukses gemilang. Adapun pengertian Wali Sanga dapat dipahami secara denotatif maupun konotatif. Dalam pengertian denotatif nama Wali Sanga berarti sejumlah guru besar atau ulama yang diberikan tugas untuk dakwah dalam wilayah tertentu. Dalam pengertian konotatif Wali Sanga adalah seseorang yang mampu mengendalikan babahan hawa sanga (Sembilan lubang pada diri manusia) maka dia akan memperoleh predikat kewalian yang mulia dan selamat dunia akherat. Ariff wali sanga

Adapun nama nama Wali Sanga itu adalah sebagai berikut, Wali Sanga History

Nama Nama kesembilan Wali yang disebut dalam Wali Sanga

Sunan Wali Sanga dan Nama Wali Sanga tersebut antara lain:

1. Maulana Malik Ibrahim

Maulana malik ibrahim mempunyai beberapa nama yaitu maulana Maghribi, sunan gresik. Beliau termasuk salah satu Wali Sanga yang menyiarkan agama islam di gresik, jawa timur. Sunan gresik masih keturunan Ali Zainal Abidin Al Husein. Ibnu Ali Ibnu Abi Thalib.

cara CEPAT-KURUS-LANGSING-3-HARItombol-Beli-Sekarang FIFORLIF

Sunan gresik berasal dari daerah Magribi, Afrika utara. Beliau datang ke Indonesia pada jaman Majapahit tahun 1379 untuk syiar islam, bersama dengan Raja Cermin dan putra putrinya. Raja cermin adalah raja hindustan. Sunan gresik wafat pada 1419 Masehi. Makamnya di Gapura wetan , gresik, Jatim

2. Sunan Ampel

Sunan Ampel lahir pada 1410M. nama kecilnya adalah Raden rahmat. Beliau adalah putra Raja campa. Raden rahmat menikah dengan Nyai Ageng manila, putri Tuban yang menurunkan 4 putra

Maulana Makdun Ibrahim (Sunan Bonang)

Syarifuddin (Sunan Drajad)

Putri Nyai Ageng Maloka

Dewi Sarah (Istri Sunan kalijaga)

Beliau mendirikan pondok pesantren di Ampeldenta, Surabaya.Kader Sunan Ampel diantaranya :

Raden paku (Sunan giri), Raden Makdum (Sunan Bonang), Raden patah (Raja demak), Sunan Kalijaga (menantu), Maulana iskak (blambangan)

Sewaktu pembangunan Masjid agung Demak pada tahun 1401 atau 1479 M, Beliau berpartisipasi aktif. Sunan Ampel inilah yang menjadi penerus perjuangan dakwah Maulana Malik Ibrahim.

Dalam syiarnya Sunan Ampel selalu menggunakan idiom idiom budaya lokal , puji-pujian yang merupakan ciri khas sastra pesantren berkembang di Ampel delta. Masayarakat Jatim sangat menghormatinya.

3. Sunan Bonang

Sunan bonang adalah putra tertua Sunan Ampel , Sunan bonang adalah guru dari Sunan kalijaga.Dalam bidang sastra budaya Beliau membantu Raden patah mendirikan Masjid Demak, dakwah melalui pewayangan, menyempurnakan instrumen gamelan, terutama bonang, kenong dan kempul, tembang macapat, suluk wujil.

Sunan Bonang termasuk Wali Sanga yang sukses dalam menyiarkan agama islam. Ajaran Sunan Bonang termuat dalam suluk wujil. Wujil adalah seorang abdi kesayangan Prabu Brawijaya. Raja Majapahit.

4.Sunan Drajad

Sunan Drajat adalah putra Sunan Ampel. Beliau hidup pada jaman Majapahit akhir.Pada masa itu terjadi krisis sosial ekonomi dan politik. Sunan drajat menjadi juru bicara rakyat yang tertindas. Beliau mengecam tindakan elite  politik waktu itu yang hanya mengejar kekuasaan demi kenikmatan pribadi. Dalam bidang sastra Sunan Drajat termasuk Wali Sanga yang  menciptakan Tembang Pangkur, Sunan Drajat menghendaki keselarasan lahir batin, jasmani rohani, dunia akherat supaya hidupnya sejahtera. Hidup didunia fana in harus dimanfaatkan sebaik baiknya yaitu untuk beramal sholeh.

5. Sunan Kalijaga

Kanjeng Sunan kalijaga adalah salah satu Wali Sanga yang diakui oleh masyarakat sebagai Guru suci ing Tanah Jawi. Jasa beliau yang luar biasa besarnya adalah kemampuannya menyampaikan ajaran islam dengan wicaksana, dan mudah diterima oleh berbagai lapisan sosial masyarakat.

Pendekatan yang dipakai Sunan kalijaga yaitu momong, momor dan momot.

Momong berarti bersedia untuk mengemong, mengasuh, membimbing dan mengarahkan. Ibarat anak yang belum bisa mandiri, pihak pengasuh berkewajiban untuk melayani anak apa saja kebutuhannya harus dicukupi, sepanjang masih dalam batas kewajaran dan keutamaan.Kanjeng sunan memperlakukan pihak yang lemah seperti orang tua dan anak, seperti Nyai dan santri, sperti Guru dan murid.

Momor, Berarti bersedia untuk bergaul, bercampur, berkawan dan bersahabat. Hal ini dimaksudkan agar pihak lain bisa merasa akrab. Sikap bersahabat tanpa jarak dengan dijiwai kejujuran dan ketulusan membuat kawan bertambah hormat dan segan.

Momot berarti kesediaan untuk menampung aspirasi dan inspirasi dari berbagai kalangan yang beraneka ragam. Kanjeng sunan berhasil menempatkan posisi keagamaan, kekuasaan dan kebudayaan.

Dalam legenda tentang Masjid Demak, Sunan kalijaga menduduki tempat yang penting. Dialah yang berjasa membetulkan kiblat masjid mengarah ke Mekkah. Sunan kalijaga juga yang memperoleh baju wasiat “Antakusuma” yang jatuh dari langit tatkala para Wali Sanga sedang bermusyawarah.

6. Sunan Giri

Kisah Wali Sanga selanjutnya adalah Sunan Giri. Sunan Giri adalah salah satu dari Wali Sanga yang bertugas menyiarkan agama islam dikawasan Jawa timur, tepatnya didaerah gresik. Beliau hidup antara 1365-1828. Ayahnya bernama Maulana Iskak, berasal dari Pasai. Ibunya bernama Sekardhadhu, putri Raja blambangan, Prabu Minaksembuyu.

Nama kecil Sunan giri adalah Jaka Samudra. Masa kecilnya diasuh oleh janda kaya raya , Nyai Gedhe Pinatik. Menjelang dewasa jaka samudra berguru pada Sunan Ampel. Jaka Samudra diberi gelar Raden Paku oleh Sunan Ampel. Bersama Sunan Bonang, Raden paku berhaji ke Mekkah. Disana Raden paku berjumpa dengan ayahnya Maulana Iskak yang sudah bergelar Syeh Awalul Islam. Sepulang dari Mekkah Raden paku mendirikan pesantren di Giri, Gresik, sehingga orang menyebutnya Sunan Giri.

Sunan Giri dalam dakwahnya menggunakan jalur budaya, dan Beliau menciptakan Jetungan, jamuran, gula ganti, cublak cublak suweng, Tembang asmarandana, tembang posung.

Sunan giri wafat dalam usia 63 tahun dan sebagai Wali Sanga yang sukses dengan syiar islam. Warisan seni budaya Sunan Giri yaitu lagu Ilir iLir. Lagu Ilir ilir memberikan rasa optimis kepada seseorang yang hendak melakukan amal kebaikan agar amal itu berguna untuk bekal dihari akhir. Kesempatan  hidup didunia harus dimanfaatkan untuk berbuat kebaikan, jangan membunuh nanti akan berganti dibunuh karena semua ada balasannya.

7. Sunan Kudus

Cerita Wali Sanga yang lainnya adalah Sunan kudus. Di kabupaten Kudus jawa tengah juga berdiri sebuah padepokan keislaman yang cukup  terkenal. Pendirinya adalah Sunan Kudus atau Jakfar Shaddiq seorang ulama besar, salah satu dari Wali Sanga yang melakukan syiar islam disekitar Kudus, Jawa tengah.

Beliau lahir pada pertengahan abad 15 M. Ayahnya bernama Raden Usma Haji yang bergelar Sunan Ngundung di Jipang Panolan, Blora. Kakek Sunan Kudus adalah saudara Sunan Ampel sehingga masih ada pertalian darah. Sunan kudus banyak menciptakan karya sastra dan budaya antara lain:Tembang maskumambang, tembang mijil, dan Masjid Menara Kudus. Sunan Kudus wafat pada tahun 1550 M dan dimakamkan di Kudus. Dipintu makam Sunan Kudus terukir kalimat Asmaul Husna yang berangka tahun 1895 Jawa atau 1296 Hijriyah.

8. Sunan Muria

Deretan anggota Wali Sanga lainnya adalah Sunan Muria. Sunan Muria adalah putra Sunan Kalijaga. Ibunya bernama Dewi Sarah. Istrinya bernama Dewi Sujinah, kakak kandung Sunan Kudus. Putranya bernama pangeran Santri. Nama kecil Sunan Muria adalah Raden Umar Saisi. Disebut Sunan muria karena wilayah syiarnya meliputi lingkungan gunung muria. Karya Sunan muria adalah Tembang sinom dan Tembang Kinanthi.

9. Sunan Gunung Jati

Beliau dilahirkan didaerah Pasai Aceh. Setelah menginjak dewasa beliau berangkat ke Mekkah untuk memperdalam ilmu agama selama tiga tahun. Waktu itu tahun 1511 Bangsa portugis sudah menguasai Malaka. Kemudian beliau merantau ke Jawa yaitu kerajaan Demak. Didemak beliau diterima dengan tangan terbuka oleh Sultan Trenggana yang memerintah antara tahun 1521-1546. Kepribadian Fatahillah sangat menarik hati Sultan Trenggana sehingga beliau dikawinkan dengan adiknya Putri Demak. Ekspansi Portugis ke daerah Jawa barat kurang berkenan di hati kerajaan Demak. Dibawah pimpinan Sarif Hidayatullah, Demak membendung Portugis di Jawa Barat. Pada tahun 1526 Brantas dapat dikuasai Demak. Pada tahun 1527 Sunda kelapa juga dikendalikan oleh Fatahillah, dan memindahkannya ke Cirebon. Kerajaan Banten diperintah oleh putra Fatahillah, Sultan Hasanudin.

Dakwah para Wali Sanga
Fatahillah lantas tinggal di Cirebon untuk menyiarkan agama islam. Beliau wafat pada tahun 1570 di Gunung Jati. Makam Wali Sanga. Oleh karena itu beliau lebih populer disebut Sunan Gunung Jati. Beliau adalah salah satu peletak syiar agama islam di jawa barat. Masyarakat cirebon sangat menghormati Sunan Gunung jati, bahkan sampai sekarang banyak peziarah datang dari berbagai daerah untuk mendatangi makamnya. Nama lain Sunan Gunung Jati adalah Fatahillah, Syarif Hidayatullah, Said kamal dan Maulana Syeh makdum rahmatullah.

Dakwah dengan Kebijaksanaan para Wali Sanga

Wasiat Wali Sanga – Demikianlah perjuangan para Wali Sanga dalam menyebarkan agama islam di tanah jawa dengan menggunakan pendekatan kultural. Para Wali Sanga ini berusaha memahami seluk beluk kebudayaan lokal, sehingga syiar dakwahnya mudah diterima oleh kalangan yang sangat luas. Semua sepakat bahwa dakwah yang dilakukan oleh para Wali Sanga ini dengan mempertimbangkan aspek kebijaksanaan hidup.

Comments

comments

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Matur suwun .. Tlg Jangan di copy content ini :)